innity

pages

Monday, June 27, 2016

[MRYM LEE TAK YAH DOK POYO N JAHIL ADAB SANGAT] Memang Tak Salah, TAPI .....jaga adap, jangan BIADAP


Sebagai seorang Islam, saya tidak pernah menghalang teman-teman saya yang bukan Islam untuk makan di depan saya di bulan Ramadan.
Malah, ketika selesai mesyurat tempoh hari saya sendiri bergegas membawa kawan Scottish saya ke dewan makan untuk makan tengah hari sekalipun dia menggesa saya tidak perlu risau jika dia terlepas makan.
Saya menjawab, “ini tanggungjawab saya sebagai orang Islam untuk melayan anda dengan baik dan memastikan hak anda terjaga.”
Malah semalam, ketika kawan Canadian saya sedang makan donut bersama isteri beliau di depan kami sebelum waktu berbuka, tidaklah saya menempelak mereka dan menjerit macam orang dirasuk hantu. Malah, kami berbual seperti biasa dan beliau mencadangkan saya membeli donut yang beliau makan tersebut.
Apapun, masih ramai di kalangan teman-teman saya yang bukan Islam tetap menghormati kami dan tidak makan di hadapan kami di bulan puasa ini.
Namun pada hari ini saya terbaca ada fenomena baru pula. Saya terbaca ada segelintir wanita Islam bertudung yang sengaja makan di khalayak ramai dengan alasan hak mereka untuk makan atas uzur syar’ie. Kenapa perlu dipaksa mereka untuk berlapar?
Saya teringat kisah ibu saya berkongsi pengalaman bagaimana dulu kalau arwah nenek saya kalau tidak berpuasa atas uzur syar’ie, tiada siapa di dalam rumah yang tahu beliau tidak berpuasa.
Saya tanya ibu saya, “kenapa arwah nenek tak makan jer? Dalam rumah kan lagipun memang dia tak boleh berpuasa? Tak salah makan depan keluarga.”
Ibu saya menjawab, “bukannya tidak boleh, tetapi hanya menjaga adab. Kita kena jaga adab dengan orang lain yang berpuasa. Jangan nak melayan kehendak sendiri sahaja. 
Katakanlah bukan di bulan puasa dan keliling kita orang miskin yang tidak mampu nak beli makanan, adakah kita akan ambil sikap tidak endah dan makan sahaja di depan mereka? 
Kalau tidak berpuasa, jagalah adab sekurang-kurangnya sebagai menghormati orang yang berpuasa.”
Begitulah generasi umat Islam yang lalu, sangat menjaga adab kesopanan dan kesusilaan. Saling menghormati walaupun dari segi hakikatnya dalam konteks puasa boleh sahaja mereka makan di khalayak ramai.
Sehingga ke hari ini, saya sendiri tidak pernah nampak ibu saya makan di depan saya di dalam rumah ketika beliau tidak berpuasa. Kalau ini adab ketika dengan anak sendiri, apatah lagi nak makan di khalayak ramai di negara yang majoritinya Islam.
Janganlah terlalu ghairah mempertahankan hak individu sehingga lupa adab budi pekerti. Hidup bermasyarakat perlulah beradab. Kalau hilang adab dan kesusilaan, hilanglah nilai kemasyarakatan harmoni yang telah wujud sekian lama.
Abu Ameen

'Hak Saya Nak Makan Secara Terbuka Di Bulan Ramadhan'

Tindakan seorang wanita beragama Islam mendedahkan dirinya makan secara terbuka di sebuah restoran di Quill City Mall, dikecam hebat netizen yang menganggap tindakannya itu keterlaluan dan tidak hormat orang Islam yang lain, berpuasa.

Status yang dimuat naik oleh Mrym Lee pada jam 2 petang semalam telah dikongsi 3,232 di laman Facebook dan rata-rata yang meninggalkan komen mengecam tindakannya itu.

STATUS 'KONTROVERSI MRYM LEE

"I am so sorry this happens to you," words I am starting to get used to since the past emotionally exhausting 3 weeks.

But today, of all days, these words were uttered to me again for a victimless, crimeless act. Which makes it so much worse because of how unnecessarily you've been punished.

This ramadan, I have made it a conscious effort to physically protest moral and religious policing of muslims in Malaysia, especially muslim women.

This means it is a conscious effort on my part to eat and drink in public during Ramadan, when I am not fasting, while being visibly Muslim (tudung/malay-looking etc).

Another friend also does this, and we both have gotten harassed, verbally abused and publicly persecuted every single time - for merely eating when we were hungry and drinking when we were thirsty, by people who were supposed to be fasting.

Every time.

"Dik, kau tak puasa ke?" "Ha ah, tak puasa." And just kept on drinking to their continued harassment. Harassments to make you feel guilty in the name of religion, but we know we're not doing anything wrong at all.

Today, at The Chicken Rice Shop in Quill City Mall, I sat and ordered a plate of Penang rojak. Manager was very rude from beginning, but he didn't refuse service and even served my rojak already.

I was eating when I was pestered by same manager whose staff rudely served my plate (dia campak je pinggan ke atas meja).

"Are you malay?"

Ya.

"Are you muslim?"

Ya.

"Then why are you eating?"

I stopped eating. "Not again," I thought. If you didn't want to serve me you should have refused service from the beginning, not harass me when I was already eating.

He continued pestering me on how people around me, the other customers and staff, were looking at me weirdly.

"Encik, makan dan minum bukan salah di sisi undang-undang," I said.

"Ye lah tapi awak buat macam ni mencalarkan imej Islam," he pointed.

A friend was there, a non Muslim, and he basically tried to calm the manager down, "encik, dia tak kacau orang pun."

"Saya tak marah kamu, saya marah dia (me)," manager replied to my poor friend who had to witness this.

"Encik, saya tahu saya tak salah. Islam tak ajar kita camni." He left my table, waved his hand, shook his head.

I then went to him, explaining how he's been rude to me as a customer, and he explained that religious authorities could raid the restaurant and punish for serving Muslims during ramadan.

I asked him if he thinks that it's right by Islam to do that, he said yes. Regretfully, I wouldn't be surprised if many malay Muslims think this way.

"Ok, baiklah. Bagi saya habiskan makanan saya. Then I'll leave."

5 minutes later, another customer, a malay muslim man with a wife and a child with him, came to my table and started to harass.

"Apa hak kau nak makan kat tempat umum ni, dik? Kau tak reti hormat orang berpuasa ke?" With a clearly angry tone, increasingly shouting at my face as I ignore the continued harassment.

I called the manager to remove him from harassing me. Though clearly taking the man's side, I was a customer too.

But he wasn't finished. "Abang tahu perempuan ada masalah (referring to menstruation)," this is where I stopped him. I was not going to tolerate punishing women for their biology.

"Tiada apa masalah langsung dengan wanita dan tidak boleh puasa," I said, looked at him straight in the eye.

He became furious. "Tapi kau tak reti hormat ke? Kau merosakkan imej agama Islam!"

The irony was just too real.

Since when has it been your entitled right to become a religious or moral police over other people's ibadah (religious rituals)?

I wanted to ask for the manager, but the manager was the one who started to deny my right to eat in the first place.

At this point, I was only thinking of the Prophet's advice that when we face a difficulty when fasting, that we should say "I am fasting, I am fasting", so as to refrain from anger. I mean I wasn't fasting but I refrained from anger anyway because I thought that's just good advice, ya know.

Anyway, he became very very angry and started to say unrelated things like "melayu lain kat sini pun cari makan jugak (the other malays here are making a living too)," which was very puzzling because the only person being denied a meal was me, not anyone else. Plus, I never denied anyone to make anything, all I wanted was to eat in peace.

I finished my Penang rojak, paid my bills and left the restaurant. Manager made rude faces all the way, his staff literally threw tantrums when they walked pass me.

As I was leaving, a couple of lovely ladies in the same restaurant signaled solidarity, "keep standing up for your rights! Keep standing up for your rights."

Thank you, lovely ladies. Yes we do need to keep standing up for our rights, because if we don't, power hungry authoritarians will gladly take them away from us.

Religious policing of people's personal beliefs and rituals is rife and it is a worrying backwards mentality.

Women and children always get the brunt of religion, because power always targets to oppress the weak but never to question the powerful.

Get your priorities straight. Go punish our corrupt politicians and fix our messed up policies. Leave the practice of faiths to the individual, empower each other in society to do good, only then we'll see productive progress. - Mrym Lee 


Mrym juga mengambil inisiatifnya sendiri dengan membuat bancian di laman Twitter. Hasilnya, 60% dari 878 berpendapat bahawa adalah tidak menjadi satu kesalahan makan secara terbuka bagi umat Islam di bulan ramadhan.

Menurut pendakwah, Wan Ji Wan Hussin berkata, umat Islam disarankan menghormati hak orang yang tidak berpuasa di bulan ramadhan. 

"Cara fikiran masyarakat Islam di Malaysia ini perlu diperbaiki. Bukan dengan hanya mengharapkan orang lain yang kena hormat umat Islam di mana pada bulan ramadhan, ketika orang Islam tidak boleh makan, orang lain pun kena hormat, tak boleh," katanya kepada Free Malaysia Today

Jelas Wan Ji lagi, bukanlah menjadi kesalahan di sisi syariah untuk orang Islam yang tidak boleh berpuasa untk makan di tempat awam.

"Islam tidak melarang pun. Hal sensitiviti dan sentimen ini hanyalah hal orang Melayu. Keadaan ini boleh diubah melalui perubahan sikap sebahagian orang Islam sendiri yang sering mendesak agar mereka dihormati tanpa menghormati orang lain," katanya. - PIXEL MEDIA

5 comments:

  1. Bukan sahaja menjaga adab bro... tp jg tidak menimbulkan sangka buruk dan fitnah... fitnah tu lg buruk bahana nya... nk mkn, mkn la sbyk mana pn yg kamu nak, tp pandai-pandai la agar tidak menimbulkan fitnah pd orang sekeliling... orang bkn Islam pun pandai hormat tidak mkn dpn orang Islam berpuasa ini kn pula kita yang mengaku beragama Islam... Masya Allah.... moga Allah lindungi kita dari dari segala bala bencana dan fitnah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa yg dia buat tak salah, yang sekeliling melatah terlebih tu yg salah.

      Takkan pasal makan pun boleh timbulkan fitnah? Apa yang dia buat tak berdosa, tak haram pun, jangan kita mengharamkan sesuatu yang Allah tak haramkan.

      Masalah dia hormat orang lain atau tidak, itu adalah amalan dia dgn Allah, masalah masyarakat sekeliling yang berpuasa, tapi mencemuh dan bersangka buruk, adakah itu amalan puasa yang sebenar?

      Bukan hak kita nak menjaga amal ibadah orang lain, jaga dulu amal ibadah diri sendiri.

      By the way, penggunaan masya Allah tidak tepat mengikut konteks. Rujuk surah al kahfi untuk dapatkan penggunaan konteks yang lebih tepat.

      Delete
    2. MM Nixsoft System
      Ha ha .. Yang membezakan orang Islam dan orang kafir Harbi berpuasa adalah ADABnya... Adab itu terbentuk dari objektif berpuasa ...kalau x faham objektif berpuasa ,maka jadiah seperti Maryam lee, muka cantik tapi otak lembu.. saya harap anda bukan golongan ini...Amiiin.

      Delete
  2. Jadi, sekiranya adab berpuasa tu membezakan Islam atau tak, adakah puasa yang dilakukan tu dapat membentuk pelakunya dari sifat2 yang baik? Oleh itu, adakah kelakuan penegur dgn mencemuh dan mengeji adalah adab yang lahir dari puasa? Maksudnya, kamu sendiri tak faham adab berpuasa.

    Islam atau kafir tu tak berapa penting, iman dalam hati tu lagi penting. Takde pun ajaran Quran mengajar mencemuh orang yang tak berpuasa sedangkan kamu sendiri tak tahu kenapa dia tak berpuasa. Dlm surah Taha, Allah menyuruh nabi musa berdialog dgn firaun dgn kata2 yg baik, dan firaun orang yg mengaku diri sendiri Tuhan. Adakah kamu membaca Quran tanpa memahami maksud ayat Allah sendiri? Maka jadilah muka cantik tapi otak lembu. Saya harap kamu bukan golongan ini.. Aaamiiin.

    ReplyDelete
  3. Salah tu....Islam penting...kafir tak. Adoiyai...komen menggunakan akal jgn emosi pak.....hahahaha

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

innity

Recent Posts

Recent Posts Widget

Blog Archive

Total Pageviews

Alexa

review http://www.celahgelegar.blogspot.com on alexa.com